MIKA,
MALAIKAT TANPA SAYAP
Pada tahun 2013 lalu, ramai sekali
memperbincangkan film Indonesia terbaru yang berjudul “MIKA”. Film ini juga
diadaptasi dari sebuah novel laris dengan judul “Waktu Aku Sama Mika” karya
Indi. Film ini dibintangi oleh Vino Bastian, Velove Vexia, Izhur Muhctar, Dona
Harun, Framly Nainggolan. Dalam film
garapan Lasja F. Susatyo ini Vino dipercaya menjadi tokoh utama. Film ini
dirilis pada tanggal 17 Januari 2013, dan film ini juga bergenre drama.
Film dengan durasi 100 menit ini
menceritakan kisah cinta dua remaja yang
bertemu secara tidak sengaja dalam suatu peristiwa. Vino Bastian berperan
sebagai Mika, yaitu seorang pria yang mempunyai penyakit AIDS karena dulunya ia
adalah pemakai narkoba, dan Velove Vexia berperan sebagai Indi yang ternyata
adalah seorang gadis SMA penderita scoliosis yang kemanapun ia pergi ia
harus menggunakan besi penyangga khusus
untuk memperbaiki tulang punggungnya setiap hari. Film ini sama seperti film
romantis lainnya yang kebanyakan menumbuhkan rasa ketertarikan satu sama lain
ketika bertemu pada saat yang tidak terduga.
Pada adegan selanjutnya
diperlihatkan bahwa akhirnya mereka menjalin hubungan dekat dengan menerima
kondisi satu sama lain, Mika yang awalnya tidak yakin atas perasaan Indi
padanya lalu akhirnya pun Mika yakin seiring berjalannya waktu. Seperti film
kebanyakan, ketika dalam sebuah hubungan
dua insan ternyata adanya pihak yang kurang menyukai hubungan itu juga ada di
dalam film Mika ini. Banyak pihak yang tidak menyukai hubungan mereka sehingga
Indi pun dijauhi oleh teman-temannya dan
juga tidak direstui kedua orang tuanya. Namun, itu tidak membuat mereka menjauh
satu sama lain.
Seiring berjalannya waktu,
penyakit Mika pun semakin parah dan tidak bisa disembuhkan lagi dan banyaknya
kejadian yang akhirnya membuat mereka jauh. Akhir cerita dalam film ini sama persis seperti
novel nya yang juga cerita nyata dari penulisnya. Film ini banyak mengandung
pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik oleh para remaja masa kini.
Namun sangat disayangkan, latar
tempat dan waktu yang agak membingungkan dan juga banyak digunakan kata-kata
yang sangat kasar melalui dialog antartokoh. Dan juga banyak bahasa asing yang tidak
dijelaskan dalam film tersebut.
Film ini banyak mengandung nilai
moral yang seharusnya memang ditanamkan untuk para remaja, yaitu semangat untuk
menjadi lebih baik dalam menghadapi penyakit dan juga jangan menjauhi seorang
penderita HIV tetapi jauhilah penyakitnya bukan orangnya. Banyak pesan dan kesan yang disampaikan kepada
para orang tua terhadap perkembangan anak khususnya para remaja. Film ini juga
dibintangi oleh para pemain yang sangat menjiwai peran sehingga penonton pun
merasa menyaksikan langsung ke dalam film tersebut dan selain itu juga banyak kata kata
mutiara yang bisa kita ambil untuk dijadikan semangat dalam menjalani
kehidupan.
Dari penjelasan di atas, kita
bisa simpulkan bahwa kita harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan dan
harus tetap positive thinking kepada
semua orang. Jangan pernah berputus asa dalam berbuat kebaikan walaupun dalam keadaan sakit sekalipun. Dan dengan adanya
film ini, kita diharapkan untuk bisa memutus rantai HIV yang sudah banyak
tersebar di dunia. Jangan menjauhi apalagi menghina seorang penderita HIV/AIDS.
