Kamis, 02 April 2015

review film MIKA tugas bahasa Indonesia

MIKA, MALAIKAT TANPA SAYAP

 Pada tahun 2013 lalu, ramai sekali memperbincangkan film Indonesia terbaru yang berjudul “MIKA”. Film ini juga diadaptasi dari sebuah novel laris dengan judul “Waktu Aku Sama Mika” karya Indi. Film ini dibintangi oleh Vino Bastian, Velove Vexia, Izhur Muhctar, Dona Harun, Framly Nainggolan. Dalam film garapan Lasja F. Susatyo ini Vino dipercaya menjadi tokoh utama. Film ini dirilis pada tanggal 17 Januari 2013, dan film ini juga bergenre drama.
Film dengan durasi 100 menit ini menceritakan kisah cinta dua remaja  yang bertemu secara tidak sengaja dalam suatu peristiwa. Vino Bastian berperan sebagai Mika, yaitu seorang pria yang mempunyai penyakit AIDS karena dulunya ia adalah pemakai narkoba, dan Velove Vexia berperan sebagai Indi yang ternyata adalah seorang gadis SMA  penderita scoliosis yang kemanapun ia pergi ia harus menggunakan besi  penyangga khusus untuk memperbaiki tulang punggungnya setiap hari. Film ini sama seperti film romantis lainnya yang kebanyakan menumbuhkan rasa ketertarikan satu sama lain ketika bertemu pada saat yang tidak terduga.
Pada adegan selanjutnya diperlihatkan bahwa akhirnya mereka menjalin hubungan dekat dengan menerima kondisi satu sama lain, Mika yang awalnya tidak yakin atas perasaan Indi padanya lalu akhirnya pun Mika yakin seiring berjalannya waktu. Seperti film kebanyakan, ketika dalam sebuah hubungan dua insan ternyata adanya pihak yang kurang menyukai hubungan itu juga ada di dalam film Mika ini. Banyak pihak yang tidak menyukai hubungan mereka sehingga Indi pun dijauhi  oleh teman-temannya dan juga tidak direstui kedua orang tuanya. Namun, itu tidak membuat mereka menjauh satu sama lain.
Seiring berjalannya waktu, penyakit Mika pun semakin parah dan tidak bisa disembuhkan lagi dan banyaknya kejadian yang akhirnya membuat mereka jauh. Akhir cerita dalam film ini sama persis seperti novel nya yang juga cerita nyata dari penulisnya. Film ini banyak mengandung pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik oleh para remaja masa kini.
Namun sangat disayangkan, latar tempat dan waktu yang agak membingungkan dan juga banyak digunakan kata-kata yang sangat kasar melalui dialog antartokoh. Dan juga banyak bahasa asing yang tidak dijelaskan dalam film tersebut.
Film ini banyak mengandung nilai moral yang seharusnya memang ditanamkan untuk para remaja, yaitu semangat untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi penyakit dan juga jangan menjauhi seorang penderita HIV tetapi jauhilah penyakitnya bukan orangnya. Banyak pesan dan kesan yang disampaikan kepada para orang tua terhadap perkembangan anak khususnya para remaja. Film ini juga dibintangi oleh para pemain yang sangat menjiwai peran sehingga penonton pun merasa menyaksikan langsung ke dalam film tersebut dan selain itu juga banyak kata kata mutiara yang bisa kita ambil untuk dijadikan semangat dalam menjalani kehidupan.
Dari penjelasan di atas, kita bisa simpulkan bahwa kita harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan dan harus tetap positive thinking kepada semua orang. Jangan pernah berputus asa dalam berbuat kebaikan walaupun dalam  keadaan sakit sekalipun. Dan dengan adanya film ini, kita diharapkan untuk bisa memutus rantai HIV yang sudah banyak tersebar di dunia. Jangan menjauhi apalagi menghina seorang penderita HIV/AIDS.


Kamis, 26 Februari 2015

Review film tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tugas bahasa Indonesia


CINTA DUA ADAT


    Baru-baru ini sangat ramai diperbincangkan tentang film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang sangat diminati oleh para remaja. Film ini juga diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Buya Hamka,dan bergenre romantis, dalam film ini menceritakan dua kebudayaan yg berbeda. Yaitu budaya Minang dan budaya Bugis yang berujung kepada kematian.
    Film ini menceritakan keadaan masyarakat Minang pada era tersebut, film ini juga menjadi film termahal yang pernah diproduksi oleh Soraya Intercine Films. Proses produksinya juga menghabiskan waktu lima tahun, penulisan skenarionya dilakukan selama dua tahun dan dirilis pada Desember 2013. Film ini dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahardian, Randy Danistha. Menurut sutradara, elemen yang tersulit dalam film ini adalah menemukan kapal yang mirip dengan kapal aslinya pada tahun 1930-an dan akhirnya memesan kapal dari Belanda.
    Berlatar tahun 1930-an, dari tanah kelahirannya Makasar, Zainuddin (Herjunot Ali) berlayar menuju kampung halaman ayahnya di daerah Batipuh. Disana ia bermaksud untuk mendalami ilmu agama Islam, lalu tanpa disengaja ketika sedang belajar agama Zainuddin bertemu dengan seorang wanita nan jelita yang juga yatim piatu yaitu Hayati (Pevita Pearce). Mereka berdua saling jatuh cinta, dan saling surat menyurat. Tidak seperti film bergenre romatis lainnya, film ini menggambarkan dimana mereka berkomunikasi seperti keadaan era nya.
    Film ini juga menggambarkan tentang para pemuka agama yang masih kental dengan adat Minang, sehingga Zainuddin pun diusir dari Batipuh karena menurut mereka Zainuddin bukan asli keturunan Minang dan pindah ke Padang Panjang. Disana ia bertemu saudara jauhnya bernama bang Muluk yang ternyata selalu mendukungnya. Selanjutnya dalam film tersebut kita bisa melihat ditolaknya Zainuddin saat berkumpulnya para pemuka agama  untuk memusyawarahkan lamaran. Mereka malah menerima lamaran Azis (Reza Rahardian)  seorang anak orang kaya asli Minang yang juga kakak dari Khadijah, teman dekat Hayati.
    Dalam film ini mengajarkan kita untuk ikhlas dan terus berusaha kerja keras agar bisa menjadi orang yang berguna sama seperti yang Zainuddin lakukan, setelah lamarannya ditolak ia pun pergi ke Jawa untuk mengadu nasibnya dan akhirnya berhasil. Ia sukses dengan menjadi penulis terkenal dan bertemu dengan Hayati dan Azis dalam sebuah pertunjukan opera.
    Lebih jauh lagi, setelah mereka bertemu ternyata banyak peristiwa yang siap membuat penonton menjadi penasaran. Mulai dari Azis yang ditemukan bunuh diri di kamar hotelnya, dan sampai Hayati yang akhirnya pulang ke kampung halamannya. Ternyata akhir dari cerita ini agak sedikit berbeda dengan novelnya, film ini juga diharapkan untuk membangkitkan semangat pemuda agar bisa meraih kesuksesan atas hasil kerja keras sama seperti Zainuddin.
    Sayangnya, dalam film tersebut penggambaran adat Minang hanya diperlihatkan dalam beberapa bagian adegan saja, dan juga ada beberapa adegan yang seharusnya belum ada pada era tersebut. Film ini juga dibantu oleh pemeran bang Muluk yang ternyata bisa mencairkan beberapa ketegangan dari setiap adegan film tersebut. Para pemain juga sangat totalitas dalam memainkan peran, sehingga terlihat seperti aslinya.
    Dari penjelasan diatas, film ini banyak memberikan motivasi hidup yang sangat berkesan dan juga memberikan pesan atau nilai moral dari setiap adegan yaitu film ini yang mengajarkan kita untuk tetap berusaha dan berdoa dalam setiap ujian hidup yang kita lewati. Kita juga harus bisa sabar dalam  melewati semua kesusahan hidup dan jangan pernah mengeluh.